Selasa, 10 Desember 2013

Laporan Hasil Kunjungan SMK Tritech Medan

BAB I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang Sekolah
Profil Sekolah
Nama Sekolah             : SMK Tritech Informatika Medan
Alamat Sekolah           : Jl. Bhayangkara No. 522 CDE, Medan
Provinsi                       : Sumatera Utara
Status Sekolah             : Swasta

Visi dan Misi Sekolah
Visi Sekolah:
  • Menjadikan SMK berbasis teknologi Informatika yang Unggul, Mandiri, Religius dan Berstandar Internasional
Misi Sekolah:
  • Siswa/i mampu menguasai komputer software dan hardware serta  jaringan IT
  • Melahirkan generasi yang handal dalam bidang IPTEK, IMTAQ dan berjiwa kebangsaan

B.     Data Observer
Semua observer melakukan observasi pada kelas pagi, di kelas X TEX 2.
Nama   : Mentari Purba
NIM    : 111301028

Nama   : Cynthia Halim
NIM    : 111301044

Nama   : Priscilla Simanjuntak
NIM    : 111301096

Nama   : Agnes Crista
NIM    : 111301124

Nama   : Eva Brahmana
NIM    : 111301126

C.    Kondisi Fisik Kelas
Kelas dicat dengan dua warna, yaitu warna hijau dan warna kuning. Setiap siswa/i masing-masing memiliki meja dan kursi sendiri. Daftar perangkat kelas digantung di dinding. Kelas memiliki CCTV di bagian atas sudut pintu. Fasilitas penunjang lain yang dimiliki kelas adalah sebagai berikut:
-   AC (air conditioner)   : 1 buah
-   Kipas angin                  : 1 buah
-   Whiteboard                  : 1 buah
-   Lampu neon                 : 4 buah
-   Televisi                        : 1 buah
-   Pengharum ruangan      : 1 buah
-   Sapu                            : 1 buah
-   Serokan sampah           : 1 buah

D.    Hasil Observasi
Observasi dilakukan pada hari Senin tanggal 18 November 2013 pada pukul 08.00 WIB sampai pukul 09.00 WIB, kami melakukan observasi di SMK TRITECH, tepatnya di kelas X TEX 2. Adapun hasil observasi kami:
a.  Suasana Kelas
Pada saat kami memasuki kelas dan memperkenalkan diri,  siswa yang berada di kelas mulai berbincang-bincang dan menanyakan berbagai pertanyaan kepada kami. Guru yang berada di kelas menenangkan mereka, setelah itu kami dipersilahkan duduk di bangku kelas paling belakang, kemudian guru tersebut kembali menerangkan materi pelajaran sebelumnya. Di dalam kelas tersebut, ada beberapa siswa saling berbincang dengan teman sebangkunya, dan ada juga yang memainkan program di laptop saat gurunya menjelaskan materi pelajaran. Setelah guru tersebut selesai menjelaskan materi, mereka diberikan tugas membuat suatu produk, dan tugasnya dikerjakan secara berkelompok. Beberapa siswa langsung mengerjakan tugas tersebut dengan temannya, tetapi ada juga yang tidak karena masih menentukan teman sekelompoknya. Saat para siswa mengerjakan tugas, guru sesekali berjalan mengitari kelas, dan menjelaskan kembali maksud tugas kepada siswa yang bertanya. Pada saat mereka mengerjakan tugas tersebut, ada beberapa siswa yang berjalan-jalan di dalam kelas dan menganggu temannya yang mengerjakan tugas, guru membiarkan tindakan siswanya tersebut dan tetap menjelaskan tugas pada salah satu siswanya. Kemudian bel tanda pergantian jadwal mata pelajaran berbunyi, beberapa siswa di dalam kelas mulai ribut dan berhenti mengerjakan tugas yang diberikan gurunya, ada satu siswa yang mulai mengedit foto di laptop, dan ada juga yang mengerjakan tugas yang lain.

b. Media pembelajaran yang digunakan siswa
Saat proses belajar, siswa menggunakan laptop, dan ada yang mencatat materi yang diajarkan di buku tulis. Siswa juga mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan menggunakan laptop, meskipun ada fasilitas wi-fi, siswa tidak menggunakannya.
c. Media pembelajaran yang digunakan guru
Guru mengajar di kelas menggunakan laptop dan menjelaskan materi dalam bentuk slide power point yang ditampilkan pada televisi yang berada di depan kelas, tepatnya di atas whiteboard. Guru juga mengajar menggunakan buku panduan, kemudian menggunakan spidol untuk menuliskan contoh tugas di whiteboard.
  
BAB II
Teori dan Pembahasan

A.    Teori Pemrosesan Informasi
Teori pemrosesan informasi membahas langkah-langkah dasar individu yang diambil individu untuk memperoleh, menyandikan, dan mengingat informasi. Komponen esensial dari belajar adalah pengorganisasian informasi yang dipelajari, pengetahuan sebelumnya yang sudah dikuasai pemelajar, dan proses yang melibatikan pemahaman, pengertian, serta menyimpan dan mengambil kembali informasi. Dua asumsi pokok yang mendukung riset pemrosesan informasi adalah:
(1) Sistem memori adalah pengolah informasi yang aktif dan terorganisasi
(2) Pengetahuan sebelumnya berperan penting dalam belajar
     Metode pembelajaran yang digunakan di kelas X TEX 2 mengacu pada teori pemrosesan informasi dalam perspektif kognitif dan metakognisi dan pemecahan masalah. Pada teori pemrosesan informasi membahas langkah-langkah dasar individu yang diambil individu untuk memperoleh, menyandikan, dan mengingat informasi. Awalnya guru memberikan materi kewirausahaan yang ditampilkan dalam bentuk slide power point pada layar, kemudian para siswa mendapatkan informasi melalui indra dan kemudian mengkodekannya sesuai dengan interpretasi makna masing-masing agar dapat mengerjakan tugas.
B.     Teori Peran Perhatian
Pemrosesan informasi yang datang membutuhkan perhatian selektif terhadap kejadian, objek, simbol, dan stimuli tertentu lainnya agar informasi itu dapat dipelajari. Ketika perincian gamblang teks mengganggu perhatian pemelajar, generalisasi penting dalam materi mungkin luput dari perhatian. Perhatian pemelajar bisa dideskripsikan sebagai “manajer garis depan” yang penting dalam menentukan informasi yang akan diberikan untuk pemrosesan lebih lanjut.
            Ketika materi pelajaran diberikan oleh guru, ada yang memperhatikan dengan baik, dan ada yang berbincang-bincang dengan temannya, dan ketika guru memberikan tugas dan menyuruh para siswa untuk membentuk kelompok, ada yang langsung membentuk kelompok, dan ada siswa yang masih duduk di tempat dan tidak membentuk kelompok. Ketika materi diberikan oleh guru, maka perhatian dan konsentrasi dari siswa akan menentukan bagaimana dia mempersepsikan tugas tersebut dan menentukan tindakan yang akan siswa lakukan selanjutnya. Pada siswa di kelas X TEX 2, siswa yang memperhatikan guru saat mengajarkan materi dengan baik, maka perhatiannya akan terfokus pada tugas dan kemudian mengerjakannya sesuai dengan instruksi tugas yang diberikan. Sedangkan bagi siswa yang berbincang-bincang ketika proses belajar dan tidak memperhatikan guru yang sedang mengajar, perhatiannya akan luput dari tugas sehingga saat tugas diberikan, siswa tersebut santai dan tidak langsung mengerjakan tugas dan instruksi yang diberikan.
C.    Teori Metakognisi dan Pemecahan Masalah
Secara umum, metakognisi dapat dikatakan sebagai berpikir tentang pemikiran. Beberapa perspektif menekankan pengetahuan individual tentang kognisi dan penggunaan strategi. Komponen utama dari metakognisi adalah:
(1) pengetahuan dan kesadaran tentang pemikiran diri sendiri,
(2) pengetahuan tentang kapan dan di mana mesti menggunakkan strategi yang
     diperoleh
Pengetahuan tentang pemikiran seseorang mencakup informasi tentang kapasitas dan keterbatasan dirinya sendiri dan kesadaran akan kesulitan selama belajar sehingga dapat dilakukan perbaikan.
Model aktivitas meta kognitif dalam belajar terdiri dari 4 tahap, yaitu pendefinisian tugas, penentuan tujuan dan perencanaan, melakukan taktik dan strategi studi, dan mengadaptasi studi. Jika tugas studi sama, tahapannya bisa dilompati.
Masing-masing tahap menghasilkan suatu produk yang dievaluasi pemelajar (aktivitas kognitif) dan memutakhirkan kondisi tindakan untuk tahap selanjutnya. Persepsi siswa terhadap tugas belajar, misalnya adalah basis untuk penentuan dan tujuan di tahap kedua. Standar personal siswa juga memengaruhi tindakan di setiap tahap. Waktu yang tersedia untuk belajar juga memegaruhi keputusan siswa.
            Pada saat guru memberikan tugas, siswa/i kelas X TEX 2 ada yang tampak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, dan ada juga yang mengerjakan tugas dengan seadanya, bahkan membuka program yang tidak berhubungan dengan tugas. Hal ini terjadi karena pada saat para siswa diberikan tugas, mereka akan melakukan tahap-tahap model aktivitas metakognitif. Saat diberikan tugas, siswa akan mendefinisikan tugas, yaitu memunculkan persepsi tugas tersebut. Pada awalnya guru memberikan tugas untuk membuat produk minuman kemasan yang dapat menarik banyak konsumen, setelah itu siswa mengetahui tujuan dari tugas yang diberikan kemudian mereka mulai menyusun rencana bagaimana membuat suatu produk kemasan yang dapat menarik perhatian konsumen. Pada tahap model aktivitas kognitif yang pertama, para siswa akan mempersepsikan sifat dari tugas tersebut. Kemudian pada tahap kedua siswa akan memilih cara untuk menangani tugas tersebut, mereka akan memikirkan apa yang akan harus dilakukan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Bagi siswa yang mempersepsikan tugas tersebut penting akan berencana mengerjakan tugas tersebut dengan baik, salah satu caranya dengan berdiskusi dengan guru tentang tugas, atau menanyakan bagian tugas yang tidak dipahami. Sedangkan siswa yang mempersepsikan tugasnya sebagai tugas biasa, akan berencana untuk mengerjakan tugas dengan seadanya, sesuai instruksi yang sudah ada. Kemudian pada tahap tiga, para siswa melakukan strategi yang mereka rencanakan pada tahap kedua. Dan dalam tahap tiga, siswa mempersepsikan tugas dengan biasa-biasa saja, akan beranggapan tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan tugas, akan mengabaikan tugas tersebut, dan melakukan hal yang dia persepsikan lebih penting, pada salah satu siswa di kelas X TEX 2, ada yang langsung membuka program untuk mengedit foto, padahal teman sekelompoknya masih mengerjakan tugas. Dan pada tahap yang keempat, mereka akan mengadaptasi hasil tugas mereka, apakah mereka sudah puas dengan usaha dan hasil dari tugas yang mereka kerjakan, atau masih tidak puas dan akan melakukan perubahan pada tugas-tugas lainnya nanti.
BAB III
Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil observasi dan analisa berdasarkan teori, kelompok dapat menyimpulkan dan memiliki saran sebagai berikut:
A.    Kesimpulan
Sistem pembelajaran modern yang dilakukan oleh SMK Tritech telah berhasil diterapkan dengan cukup baik oleh para guru dan siswa. Penggunaan media pembelajaran seperti laptop dan televisi, memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran baik kepada siswa, dan kepada guru. Fasilitas di dalam kelas cukup lengkap untuk mendukung proses pembelajaran. Saat proses belajar, metode pengajaran berupa diskusi yang dilakukan guru membuat para siswa di dalam kelas tidak merasa tegang, sehingga siswa tidak takut memberikan pendapat.
B.     Saran
Ruangan kelas sebaiknya diperluas agar bisa memaksimalkan proses belajar sehingga kelas tidak terkesan penuh dan sempit. Kelas yang luas dapat menambah kenyamanan siswa saat melakukan proses belajar. Sehingga siswa dapat fokus dengan proses belajar dan tidak mudah terdistraksi dengan hal-hal lain. Guru yang mengajar juga sebaiknya bisa lebih mengontrol kondisi kelas agar siswa tetap fokus dengan pelajaran.
Daftar Pustaka
Gredler, M. E. (2011). Learning and instruction. Teori dan Aplikasi: edisi keenam. Jakarta: Kencana.



Lampiran
Foto

Senin, 09 Desember 2013

Perspektif Kognitif : I. Pemrosesan Informasi

Teori pemrosesan informasi ini didasari oleh asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses informasi, untuk diolah sehingga menghasilkan bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
 Terdapat 3 tahap utama dalam pemrosesan informasi :
  1. Tahap refleks informasi: refleks yang ditampilkan saat pertama kali memperoleh informasi.
  2. Tahap adaptasi: akibat pengulangan informasi, konsumen beradaptasi terhadap informasi yang ditampilkan.
  3. Tahap persepsi: munculnya persepsi tertentu dari informasi yang ditampilkan.

Selasa, 26 November 2013

Kondisi Belajar Robert Gagne (Bab 5)

Tinjauan atas 5 Variasi Belajar


Fase-Fase Belajar Gagne

Teori belajar yang oleh Gagne (1988) disebut dengan ‘Information Processing Learning Theory’.  Teori ini merupakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di saat memroses suatu informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga ‘Information-Processing Model’ oleh Lefrancois atau ‘Model Pemrosesan Informasi’. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu :
(1) motivasi;
(2) pemahaman;
(3) pemerolehan;
(4) penyimpanan;
(5) ingatan kembali;
(6) generalisasi;
(7) perlakuan;
(8) umpan balik

Senin, 18 November 2013

Pengkondisian Berpenguat Skinner (Bab 4)



Skinner membedakan dua jenis perilaku, yaitu :
1. respondent behavior (perilaku responden) yakni perilaku yang ditimbulkan oleh suatu stimulus yang dikenali, contohnya adalah semua gerak refleks.
2. operant behavior (perilaku operan) yakni perilaku yang tidak di akibatkan oleh stimulus yang dikenal tetapi dilakukan sendiri oleh individu. Karena perilaku ini pada awalnya tidak berkorelasi dengan stimuli yang dikenali, maka ia Nampak spontan. Contohnya ketika hendak bersiul, berdiri lalu berjalan. Kebanyakan dari aktivitas kita adalah perilaku operan.
Dengan dibaginya dua macam perilaku tersebut, maka ada dua jenis pengkondisian, yaitu:
  1. Respondent conditioning ( pengkondisian responden) atau biasa disebut dengan pengkondisian tipe S. pengkondisian ini menekankan arti penting stimulus dalam menimbulkan respon yang diiginkan.
  2. Operant conditioning ( pengkondisian operan) atau biasa disebut dengan pengkondisian tipe R. dalam pengkondisian ini, penguatan pengkondisianya ditunjukkan dengan tingkat respon.
Maka dapat kita lihat  bahwa dalam pengkondisian tipe S, itu identik dengan pengkondisian klasik Pavlov, sedangkan pengkondisian tipe R. itu identik dengan pengkondisian instrumental thorndike. Sedangkan riset skinner hampir semuanya berkaitan dengan penngkondisian tipe R atau pengkondisian operant.

Ada dua prinsip umum dalam operant conditioning yaitu:
  1. Setiap respon yang diikuti dengan stimulus yang menguatkan cenderung akan diulang
  2. Stimulus yang menguatkan adalah segala sesuatu yang memperbesar rata-rata terjadinya respon operan.
Dalam pengkondisian operan, penekananya adalah pada perilaku dan pada konsekuensinya. Dengan pengkondisian operan, individu merespon dengan cara tertentu untuk memproduksi stimulus yang menguatkan.

Minggu, 27 Oktober 2013

Testimonial UTS Psi. Belajar

Ujian Psi. Belajar done, lega!!!
Satu ujian lagi sudah dikerjakan dan dilewati dengan cukup baik biarpun selesainya di detik-detik deadline dan sempat dag dig dug karena keteteran ngerjainnya. Waktunya dikasi 3 hari jadi pikirannya, semua bisa dirampungkan di akhir, tapi ternyata... duar! Penyesalan emang selalu datang di akhir ya. Kenapa gak dari awal dicicil satu soal per hari. Dan ini pelajaran yang saya dapat akibat menunda-nunda tugas sekaligus yang menjadi jawaban terakhir saya, soal nomor 3 dari Bu Dina.
               
                Kaitan dari kategori penyebab/sumber masalah dari fenomena yang dikaitkan ke teori Vygotsky dengan teori Meta Kognisi dan Pemecahan Masalah yang ditinjau dari Model Aktivitas Metakognitif dalam Studi:
               Berdasarkan permasalahan (fenomena) yang terjadi tadi malam jika dikaitkan dengan teori meta kognisi maka :
1. Kesadaran akan Tujuan Pembelajaran dan Tuntutan Tugas.
Disini saya kurang menyadari akan pentingnya manajemen waktu untuk menentukan prioritas pengerjaan tugas. Seharusnya persepsi saya mengenai tugas UTS yang diberikan adalah fokus dan memberi perhatian penuh, karena tugas ini penting. (hal 279)
2. Penentuan tujuan dan perencanaan
Penentuan tujuan dan perencanaan saya kurang terkonsep secara baik.
 Disini saya harusnya menentukan tujuan kalau tugas UTS ini bertujuan agar saya mendapat nilai terbaik yang bisa saya lakukan untuk mendapatkannya kemudian membuat planning secara konseptual. (hal 276-277)
3. Pengetahuan sebelumnya yang dimiliki.
Saya memiliki pengalaman sebelumnya tentang pengerjaan tugas yang mendekati deadline, dimana saya tidak menemui masalah apapun. Pada kenyataannya pengalaman dan pengetahuan saya tersebut tidak tepat dan sudah saatnya untuk dikoreksi.
        4. Keyakinan dan penilaian tentang kompetensi seseorang. (hal 278)
Awalnya saya berkeyakinan akan mampu menyelesaikan UTS Online tepat waktu, sehingga saya memilih mengerjakan UTS pada hari Sabtu, karena pada hari itu jadwal kuliah saya kosong. (hal 278)
        5. Melakukan taktik dan strategi belajar
Saya seharusnya sudah menyusun strategi yang saya gunakan untuk menyelesaikan tugas UTS Psikologi Belajar, dan mencari sumber-sumber atau fasilitas lengkap yang akan digunakan untuk membantu menyelesaikan tugas yang diberikan.
              Untuk selanjutnya saya harus menyusun taktik dan strategi belajar yang benar dengan:
 (1)Melakukan penyesuaian skala besar pada tugas, tujuan, rencana, dan keterlibatan
 (2)Mengubah kondisi untuk belajar di masa depan (pengetahuan, keterampilan, keyakinan, disposisi, dan faktor motivasi). (hal 277)
Hello Kitty 59