Jumat, 11 April 2014

PROSES BELAJAR MENGAJAR ORANG DEWASA (BAB 3)


PENGANTAR

Proses belajar mengajar orang dewasa adalah suatu proses berlangsungnya kegiatan belajar yang dilakukan oleh pelajar atau peserta didik dan kegiatan mengajar yang dilakukan oleh pendidik atau pembimbing. Proses ini disebut juga sebagai proses “menerima-memberi” dalam arti peserta didik menerima pelajaran dan pendidik memberi pelajaran. Melalui proses belajar, seorang pelajar atau peserta didik yang tidak tahu suatu hal menjadi tahu.

TAHAP PROSES BELAJAR

           1.       Motivasi

Motivasi adalah keinginan untuk mencapai sesuatu hal. Sedangkan motivasi jangka pendek berupa minat untuk belajar pada saat itu, dan motivasi jangka panjang dapat berupa keinginan mendapat nilai ujian yang baik, keinginan berprestasi, dan sebagainya.

           2.      Perhatian pada pelajaran

Dilihat dari sudut pandang psikologi, penarik perhatian seseorang mempunyai ciri-ciri: 1) gerakan, 2) stimuli yang intensif, 3) baru, dan 4) pengulangan. Selanjutnya faktor-faktor situasional yang mempengaruhi perhatian seseorang adalah: 1) daya tarik fisik, 2) hadiah atau pujian, 3) keakraban, 4) kedekatan, dan 5) kemampuan.

           3.       Menerima dan mengingat

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses menerima dan mengingat, seperti struktur, makna, pengulangan pelajaran dan interverensi.
Struktur ð deretan angka 12345 akan lebih mudah diterima dan diingat daripada deretan angka 32451.
Makna ð jika suatu pelajaran ada hubungannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik, maka pelajaran itu akan lebih bermakna dan akan lebih mudah diterima dan diingat.
Pengulangan ð pengulangan suatu pelajaran akan meningkatkan daya ingat peserta didik. Pendidik dapat mengulangi lagi secara garis besar pada pelajaran berikutnya, atau dapat meminta peserta didik untuk mengulangi pokok-pokokpelajaran kepada teman-temannya.
Interverensi ð interverensi adalah kekalutan dalam pikiran seseorang yang sedang belajar akibat terlalu banyak menerima pelajaran sehingga pelajaran tersebut menjadi berdesak-desakan dalam pikirannya. Interverensi dapat dicegah oleh pendidik dengan: 1) memberikan tidak terlalu banyak bahan pelajaran, 2) menjelaskan struktur pelajaran, 3) memberikan istirahat singkat, 4) menggambarkan bagan, 5) memberikan bahan tertulis. Makin sedikit kekalutan yang terjadi, akan makin baik bagi proses belajar.

            4.      Reproduksi

Agar peserta didik mampu melakukan reproduksi, pendidik perlu menyajikan pelajaran dengan cara yang mengesankan. Informasi yang makin mengesankan, makin mudah diproduksi, suatu informasi akan lebih mengesankan, jika informasi itu: a) jelas strukturnya, b) jelas garis arahnya, c) diberikan dengan cara yang menyentuh perasaan, dengan contoh-contoh nyata, dengan menggunakan alat peraga, dengan gurauan yang segar, serta dengan cara-cara lain yang menarik perhatian.

           5.      Generalisasi

Pada tahap generalisasi ini, peserta didik harus mampu menerapkan hal yang telah dipelajari di tempat lain dan dalam ruang lingkup yang lebih luas. Generalisasi juga dapat diartikan penerapan hal yang telah dipelajari dari situasi yang satu ke situasi yang lain.

           6.       Menerapkan Apa Yang Telah Diajarkan serta Umpan Balik

Untuk meyakinkan bahwa peserta didik telah benar-benar memahami, maka pembimbing dapat memberikan tugas atau tes yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Selanjutnya, pendidik memberikan umpan balik berupa penjelasan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan begitu peserta didik dapat mengetahui seberapa jauh ia memahami apa yang diajarkan dan dapat mengoreksi dirinya sendiri.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI BELAJAR

            Ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang dewasa ketika dia berada dalam situasi belajar. Faktor-faktor tersebut mencakup faktor internal dan eksternal. Faktor internal fisik mencakup ciri-ciri pribadi seperti umur, pendengaran, dan pengelihatan. Faktor internal non fisik atau psikologis mencakup tingkat aspirasi, bakat, dll.
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri peserta didik atau lingkungan.

CIRI-CIRI BELAJAR ORANG DEWASA

            Cara belajar orang dewasa berbeda dengan cara belajar anak-anak. Oleh karena itu, proses pembelajarannya harus memperhatikan ciri-ciri belajar orang dewasa, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
          1.       memungkinkan timbulnya pertukaran pendapat, tuntutan, dan nilai-nilai
          2.      memungkinkan terjadi komunikasi timbal balik
          3.       suasana belajar yang diharapkan adalah suasana yang menyenangkan dan menantang
          4.      mengutamakan peran peserta didik
          5.      orang dewasa belajar ingin mengetahui kelebihan dan kekurangannya
          6.       orientasi belajar orang dewasa terpusat pada kehidupan nyata
          7.      motivasi berasal dari dirinya sendiri
          8.      orang dewasa umumnya mempunyai pendapat yang berbeda
          9.      orang dewasa mempunyai kecerdasan yang beragam
10.  kemungkinan terjadinya berbagai cara belajar

SUASANA BELAJAR YANG KONDUSIF

       Berikut ini adalah suasana belajar yang dianjurkan oleh Lunandi (1982):
1. Kumpulan manusia aktif
2. Suasana saling menghormati
3. Suasana saling menghargai
4. Suasana mengakui kekhasan pribadi
5. Suasana penemuan diri
6. Suasana tidak mengancam
7. Suasana keterbukaan

FUNGSI PENDIDIK

1. penyebar pengetahuan
2. pelatih keterampilan
3. perancang pengalaman belajar
4. pelancar proses belajar
5. sumber belajar
6. pemimpin kegiatan belajar mengajar
7. penjelas tujuan belajar
8. tutor simulasi
9. fasilitator Kejar

SIKAP PENDIDIK

       Sikap pendidik yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. bekerjasama dengan suasana hati awal yang menyenangkan
2. tenggang rasa (empati)
3. wajar (jujur, apa adanya, terus terang, konsisten, dan terbuka)
4. respek, mempunyai pendangan positif kepada peserta didik
5. komitmen terhadap kehadiran, bersedia menghadirkan diri secara penuh
6. mengakui kehadiran dan menghargai peserta didik
7. membuka diri
8. tidak menjadi ahli, menjawab setiap pertanyaan seolah-seolah menjadi ahli dalam segala hal
9. tidak diskriminatif
10. Suka membantu, periang, humoris, akrab, menunjukkan perhatian
11. membangkitkan keinginan belajar
12. tegas, menguasai kelas, membangkitkan rasa hormat
13. tidak memotong bicara dan menanggapi pertanyaan/komentar dengan tidak emosi
14. tidak suka mengomel, mencela, mengejek, dan menyindir.
15. menerima gagasan yang mungkin bertentangan dengan harapan yang diinginkan
16. memberi dorongan peserta didik dalam mengembangkan pribadinya
17. mampu mengorganisasikan kelompok belajar
18. menumbuhkan prakarsa dan meningkatkan partisipasi peserta didik
19. menerima keterbatasan diri

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKAP DAN FUNGSI PENDIDIK

1. Karakteristik Program Pendidikan
Tujuan dan Rancangan Pendidikan. Tujuan dan rancangan pendidikan sangat mempengaruhi sikap dan fungsi pendidik. Jika tujuannya akan menyampaikan pengetahuan baru, fungsi pendidik lebih sebagai penceramah, sedangkan jika tujuannya ingin peningkatan efektifitas kerja sama dalam organisasi, fungsi pembimbing lebih sebagai konsultan.

Lama Pendidikan. Pada program yang lebih lam (misalnya 1 atau 2 minggu), pendidik dapat menggunakan metode yang menggunakan metode analisis dalam seperti permainan peran (role play), diskusi kelompok, atau studi kasus.

Harapan Penyelenggara. Pendidikan orang dewasa dapat diselenggarakan oleh berbagai organisasi. Harapan dan tujuan dari lembaga penyelenggara ini harus diperhatikan sehingga pendidik dapat menentukan gaya, fungsi dan sikapnya dalam proses belajar mengajar.

2. Karakteristik Peserta Didik
Komposisi peserta didik. Contoh: mengahadapi peserta didik yang mempunyai status sosial yang tinggi, lebih tua umurnya, lebih rendah tingkat pendidikannya, lebih lambat belajarnya, atau lebih pendiam sifatnya, pendidik harus lebih bersabar.

Harapan peserta didik. Peserta didik biasanya berharap dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dll. Pendidik sebaiknya mengetahui apa yang menjadi harapan peserta didik. Harapan peserta didik terkadang terlalu tinggi sehingga kurang proporsional. Oleh karena itu pendidik perlu mendudukkan harapan itu sesuai dengan kewajaran dan menjelaskan kepada peserta didik.

3. Karakteristik Pendidik
Profesi Pendidik. Pendidik sebagai pribadi mempunyai latar belakang profesi, hobi, pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan tertentu. Hal itu semua akan menentukan sikap pendidik. Dengan memperhatikan metode dan prinsip pendidikan orang dewasa, pendidik akan mampu mengubah gaya dan fokus perhatiannya.

Keadaan Pendidik. Keadaan pendidik seperti kecapaian, kekhawatiran, kemarahan dan kebingungan akan dapat memengaruhi aktivitas dalam memberikan didikan atau bimbingan. Oleh karena itu perlu dihindari mendidik kelompok belajar langsung setiba dari perjalanan. Disamping itu diperlukan kemampuan untuk melupakan persoalan diluar kelas yang menganggu pikirannya selama mendidik (membimbing).


Sumber : Suprijanto. 2005. Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta, Bumi Aksara.

PRINSIP PENDIDIKAN ORANG DEWASA (BAB 2)


PENGERTIAN ANDRAGOGI

Andragogi (Andragogy) berasal dari kata Yunani "andr" atau "aner" yang berarti orang dewasa, dan agogi (agogy) yang juga berasal dari kata Yunani "agogus" berarti "memimpin/membimbing". Agogi berarti "aktivitas memimpin/membimbing" atau "seni dan ilmu mempengaruhi orang lain".
Definisi Pendidikan Orang Dewasa menurut UNESCO adalah : Keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, apa pun isi, tingkatan, metodenya, baik formal, atau tidak, yang melanjutkan maupun menggantikan pendidikan semula di sekolah, akademi, universitas serta latihan kerja, yang membuat orang dianggap dewasa oleh masyarakat, mengembangkan kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan kualifikasi teknis atau profesionalnya, dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam persfektif rangkap perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya yang seimbang dan bebas.

HUKUM BELAJAR

Hukum belajar terdiri dari beberapa unsur, yaitu :
  1. Keinginan belajar 
Keinginan belajar merupakan hal yang sangat penting yang dapat meningkatkan efektifitas belajar,. Keinginan belajar dapat timbul karena rasa tertarik yang mendalam terhadap suatu objek. Oleh karena itu, peserta didik perlu mempunyai keinginan belajar jika ingin berhasil. Tanpa keinginan belajar, rasanya peserta didik sulit dapat berhasil.
  1. Pengertian terhadap tugas
Peserta didik harus memperoleh pengertian yang jelas tentang apa yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ia harus mengetahui apa yang perlu dibaca, apa yang perlu dicatat, dan apa yang perlu dilakukan agar dipelajarinya “memberi makan anak dirumah”. Dalam hal ini aktivitas yang mengikutsertakan penalaran, pertimbangan dan berpikir kreatif merupakan latihan yang baik bagi orang dewasa.
  1. Hukum asosiasi
Belajar dengan menghubugkan ide atau fakta dengan ide atau fakta lain cenderung dapat menhasilkan ingatan yang lebih permanen daripada apabila tidak mengubungkannya. Belajar dengan menghubungkan tersebut adalah salah satu ciri kelebihan orang dewasa dibanding anak-anak, sebab orang dewasa lebih banyak mempunyai banyak stok ide atau informasi yang dapat menarik pelajaran baru. Ciri penting hukum asosiasi adalah bahwa ide atau pengalaman baru akan menimbulkan emosi, jika dihubungkan dengan ide atau pengalaman nyata sebelumnya. Hal ini akan sangat berguna untuk meningkatkan semangat.
  1. Minat, keuletan, dan intensitas
Penelitian telah membuktikan bahwa minat atau rasa tertarik, keulatan atau kegigihan, dan intensitas sangat berpengaruh dalam meningkatkan keberhasilan belajar, dan hal ini telah diterapkan baik bagi orang dewasa maupun pada anak-anak.
Keuletan dan intensitas dari suatu pengalaman mempunyai pengaruh yang membekas pada ingatan. Jika mina tinggi, peserta didik akan merasa terikat dengan tugasnya, memberikan perhatian yang besar terhadap apa yang dia kerjakan dan menikmati pekerjaannya.
  1. Ketetapan hati
Ketetapan hati sangat menentukan apakah seseorang akan tetap melanjutkan aktivitasnya atau tidak sama sekali. Sedangkan prasangka, kecurigaan, dan ketertutupan semuanya akan menghambat proses belajar yang efektif. Seorang peserta didik harusnya mempunyai ketetapan hati, yakni kesediaan untuk menerima ide-ide baru walaupun mungkin ia tidak ingin menerapkannya. Sebagian besar orang yang mendaftar dalam pedidikan orang dewasa mempenyai keinginan untuk mencoba ide baru, menerima atas dasar manfaat yang akan diperolehnya.

MENGEMBANGKAN SIKAP, IDEALISME, & MINAT  

     1.       Sikap
Istilah sikap disini berarti perasaan orang terhadap orang lain, ide, lembaga, fakta, dan lainnya. Pendidik yang ahli akan segera mengenal bahwa pengembangan sikap tidak dapat diremehkan begitu saja. Kualitas emosional ini idak timbul dengan sendirinnya ketika pembimbing memberikan informasi sekadarnya. Pengemnagan sikap ini harus dimasukkan kedalam tujuan khusus yang ada dalam setiap unit pengajran dan perencanaan, yang jelas harus direncanakan dengan baik sehingga tujuan khusus yang telah ditetapkan tersebut dapat dicapai. Hal ini dapat dikerjakan melalui:
a.       Seleksi materi
b.      Metode mengajar yang digunakan
c.       Aktiviras yang harus dilakukan oleh peserta
d.      Perlengkapan dan alat yang tersedia
     2.       Idealisme
Idealisme adalah suatu standar kesempurnaan yang diterima oleh individu atau kelompok. Idealisme cenderung bersifat subjektif, tetapi nyata san sangat penting dalam pendidikan anak-anak maupun orang dewasa.
Idealisme yang sangat perlu ditanamkan pada generasi muda Indonesia adalah kejujuran, kedisiplinan, etos kerja, dan kebersihan yang dirasa masih belum diresapi sepenuhnya.
     3.       Minat
Minat merupakan keinginan yang datang dari hati nurani untuk ikut serta dalam kegiatan belajar. Makin besar minatnya, makin besar semangat dan makin besar hasil kerjanya. Minat yang bersifat sementara akan mempertahankan perhatian dan mendorong keaktifan orang dewasa lebih banyak. Minat yang permanen merupakan merupakan hasil yang paling bernilai dalam semua pendidikan.
Berikut ini adalah cara-cara untuk mengembangkan minat sementara maupun minat permanen:
      a.       Pembimbing atau pendidik harus menunjukkan antusias yang tulus untu menyukseskan kursus dan kegiatan pendidikan lain
      b.      Peserta didik harus diberi kesempatan untuk mengetahui secara jelas melalui jalan pikirannya sendiri tentang subjek yang dipelajari
      c.       Peserta didik harus memperoleh pengetahuan pokok yang berhubungan dengan topik yang dipelajari dan harus mempunyai pengertian yang jelas mengenai hubungan antara topik dengan pengetahuan utama utama tersebut.
      d.      Pengetahuan yang terkait tersebut harus dibiarkan berkembang selam kursus
      e.       Rasa tertarik yang tinggi harus terus dipertahankan disetiap pertemuan kelompok
      f.        Pendidik harus membantu peserta didik untuk mengukur kemajuan mereka sendiri
      g.       Pendidik harus menunjukkan rasa senagn terlibat dalam proses belajar bersama peserta didik daripada menonjolkan pendapatan pribadinya
      h.      Suasana belajar pada setiap pertemuan harus akrab, gembira, senag, sopan, dan demokratis.

Sumber : Suprijanto. 2005. Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta, Bumi Aksara.
 

Kamis, 10 April 2014

PENGERTIAN PENDIDIKAN (BAB I)

Pengertian pendidikan 

Menurut(UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

   Jenis Pendidikan

Beberapa jenis pendidikan yang akan dijelaskan, antara lain :

1. Pendidikan massal (mass education)

Aktifitas masyarakat yang terdapat di masyarakat dengan sasaran individu-individu dan orang dewasa yang mengalami ketelantaran pendidikan. Contoh : BPPNFI mengadakan pemberantasan buta huruf dengan menyelenggaran pembelajaran di daerah-daerah terpencil, dimana masih banyak terdapat orang dewasa yang masih belum dapat membaca.

2. Pendidikan masyarakat (community education)

Gerakan pendidikan yang ditujukan pada persekutuan-persekutuan hidup agar mereka memiliki pandangan, sikap, kebiasaan dan kemampuan tertentu. Hal ini diselenggarakan dengan melalukan penyuluhan dan penyempurnaan lembaga yang prosesnya melalui pembelajaran, misalnya gerakan koperasi.

3. Pendidikan dasar (fundamental education)

Gerakan pendidikan yang ditujukan untuk meningkatkan perikehidupan masyarakat di bidang sosial ekonomi melalui pendidikan minimum. Agar masyarakat dewasa lebih mampu menyesuaikan diri dan mengembangkan lingkungan hidup dan menjaganya.

4. Penyuluhan (Extension)

Gerakan pendidikan, bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat yang dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi bekerjasama dengan instansi pemerintahan yang relevan. Pelaksanaanya melalui penyuluhan dan bimbingan, baik secara individu juga kelompok.

5. Pengembangan Masyarakat (community development)

Untuk menjelaskan usaha, proses, gerakan yang dimaksudkan agar masyarakat sebagai suatu system sosial dapat berkembang menjadi mampu menolong diri sendiri untuk meningkatkan kualitas hidupnya di bidang ekonomi dan sosial. Dilakukan dalam bentuk bimbingan persuasive secara perorangan dan kelompok. Menurut Mardikanto (2003) pengembangan masyarakat sebagai usaha untuk menumbuhkan kesadaran, mengembangkan daya pikir, sikap dan keterampilan masyarakat agar mereka dengan mandiri mampu untuk mengembangkan potensi dan penluang demi meningkatkan kualitas hidup bersama.

6. Masyarakat belajar (learnig society) 

Kenyataanya warga masyarakat aktif menggali pengalaman belajar disemua segi kehidupan. Melakukan aktifitas apapun dan mencari pengetahuan yang bersumber dari mana pun merupakan bagian dari pembelajaran.

7. Pendidikan seumur hidup (lifelong education)

Kenyataannya, dan atas kesadaran kita, asas dan harapan baru bahwasanya proses dan kebutuhan pendidikan berlangsung sepanjang hidup manusia. Manusia perlu mencari pengetahuan, pengalaman dan pemikiran baru di sepanjang hayat hidupnya. Dalam hal ini, pendidikan tidak mengenal usia dan kata terlambat untuk belajar.

Jalur Pendidikan

Pelaksanaan pendidikan di Indonesia dikenal dengan sistem pendidikan nasional yang dilaksanakan melalui tiga jalur pendidikan, yaitu pendidikan formal, pendidikan non-formal, dan pendidikan informal.

  1. Pendidikan Formal : Merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi. Termasuk juga ke dalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum, program spesialisasi, dan latihan profesional, yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus. 
  2. Pendidikan Nonformal : Merupakan jalur pendidikan di luar pendidikan     formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Taman Pendidikan Al Quran, Sekolah Minggu, berbagai kursus, bimbingan belajar dan sebagainya. Program-program pemberantasan buta aksara, Pendidikan Kesetaraan  Paket A, B, dan C, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan sebagainya. 
  3. Pendidikan Informal : Merupakan jalur pendidikan di lingkungan keluarga yang berupa ajaran tata-krama, sikap dan tingkah laku yang diajarkan pada keluarga semenjak peserta didik lahir. Pendidikan informal dapat juga disebut pendidikan yang ada di masyarakat, atau pendidikan yang dialami oleh seseorang oleh lingkungannya.
      Berikut Perbedaan Spesifik Antara Pendidikan Formal, Pendidikan Informal, dan Pendidikan Nonformal yang dijabarkan secara ringkas.  
NO.
PEMBEDA
PENDIDIKAN FORMAL
PENDIDIKAN INFORMAL
PENDIDIKAN NON-FORMAL
1
Peserta didik
Ada batasan umur, misalnya SD 7 – 12 tahun
Tidak ada batasan umur
Tidak ada batasan umur
2
Guru
Ada guru yang melaksanakan proses pembelajaran
Tidak ada guru, tetapi ayah dan ibu bisa melaksanakan fungsi sebagai guru
Pelatih, yang dapat melaksanakan fungsi sebagai guru
3
Kurikulum
Menggunakan kurikulum, baik nasional maupun yang disusun oleh sekolah
Tidak ada kurikulum, materi pendidikan ditentukan oleh masing-masing keluarga
Disediakan program dan kegiatan yang disusun oleh lembaga penyelenggara kursus
4
Struktur/ jenjang pendidikan
Struktur jenjang pendidikan yang jelas, yakni 1) pendidikan dasar, 2) pendidikan menengah, dan 3) pendidikan tinggi
Tidak ada struktur jenjang pendidikan
Dapat dilaksanakan dengan struktur dan jenjang yang disesuaikan dengan kompetensinya, misalnya 1) tingkat dasar, 2) tingkat lanjutan, 3) dsb.
5
Sertifikat/Ijazah
Sertifikat/ijazah dikeluarkan oleh pemerintah
Tidak ada sertifikat/ijazah
Sertifikat dapat dikeluarkan oleh lembaga penyelenggara kursus
Sumber : Suprijanto. 2005. Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta, Bumi Aksara.
Hello Kitty 59